Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya akhirnya memberikan pembagian retribusi kepada warga adat Kampung Naga sebesar 20% dari penghasilan setiap tahunnya.
Meski nilainya masih kecil, diharapkan uang tersebut bisa dipergunakan warga demi kepentingan bersama untuk menutupi kebutuhan minyak tanah yang mahal. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya Endang Zainal Alfian mengatakan, retribusi dari Kampung Naga atas kunjungan wisatawan per tahun sebenarnya relatif kecil,yakni hanya sebesar Rp7,8 juta. Dengan pembagian retribusi sebesar 20% tersebut,maka yang diterima pemkab hanya Rp1.560.000 per tahun.
”Sebenarnya pemerintah memberikan ini bukan karena warga kesulitan minyak tanah, tapi program ini memang sudah dipikirkan jauh-jauh hari. Namun baru setelah mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak, retribusi dari Kampung Naga ini sebagian diberikan kepada warga untuk memenuhi kebutuhannya,” papar Alfian kepada Seputar Indonesia kemarin.
Pihaknya pun meminta warga adat Kampung Naga tidak terlalu lama melakukan penutupan terhadap wisatawan yang hendak berkunjung karena bisa menurunkan pendapatan retribusi. Selain itu, pihaknya terus berupaya mencari solusi mengenai kebutuhan minyak tanah.
”Kalaupun mereka kemarin menolak listrik tenaga surya, kami menghormatinya karena itu keputusan adat yang memang sudah melalui musyawarah dan mereka mengemban amanat leluhurnya,” tambah Alfian. Sementara itu, Ketua Adat Kampung Naga Ade Suherlin menyebutkan bahwa warga tidak pernah merasa terganggu dengan penarikan retribusi wisatawan yang terus berdatangan ke kampung adat.
”Hanya pada saat kebutuhan warga dengan mahalnya minyak tanah, kenapa kami tidak diperhatikan? Padahal kami juga tidak meminta. Kami mau membeli, tentunya dengan harga yang sesuai dengan daya beli,”ungkapnya. Dari pantauan Seputar Indonesia, penutupan sampai saat ini masih terus dilakukan warga Kampung Naga.
Setiap wisatawan yang hendak berkunjung ditolak dan dicegat di tengah jalan. Mereka hanya diperbolehkan melihat dari kejauhan dan tidak sampai memasuki perkampungan. Banyak di antara wisatawan yang kecewa dan menuntut agar pemerintah segera memberikan perhatian kepada kampung adat tersebut. Sebelumnya, setiap malam selalu ada wisatawan,baik dari mancanegara ataupun lokal yang menginap di rumah warga.
”Sebenarnya pemerintah memberikan ini bukan karena warga kesulitan minyak tanah, tapi program ini memang sudah dipikirkan jauh-jauh hari. Namun baru setelah mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak, retribusi dari Kampung Naga ini sebagian diberikan kepada warga untuk memenuhi kebutuhannya,” papar Alfian kepada Seputar Indonesia kemarin.
Pihaknya pun meminta warga adat Kampung Naga tidak terlalu lama melakukan penutupan terhadap wisatawan yang hendak berkunjung karena bisa menurunkan pendapatan retribusi. Selain itu, pihaknya terus berupaya mencari solusi mengenai kebutuhan minyak tanah.
”Kalaupun mereka kemarin menolak listrik tenaga surya, kami menghormatinya karena itu keputusan adat yang memang sudah melalui musyawarah dan mereka mengemban amanat leluhurnya,” tambah Alfian. Sementara itu, Ketua Adat Kampung Naga Ade Suherlin menyebutkan bahwa warga tidak pernah merasa terganggu dengan penarikan retribusi wisatawan yang terus berdatangan ke kampung adat.
”Hanya pada saat kebutuhan warga dengan mahalnya minyak tanah, kenapa kami tidak diperhatikan? Padahal kami juga tidak meminta. Kami mau membeli, tentunya dengan harga yang sesuai dengan daya beli,”ungkapnya. Dari pantauan Seputar Indonesia, penutupan sampai saat ini masih terus dilakukan warga Kampung Naga.
Setiap wisatawan yang hendak berkunjung ditolak dan dicegat di tengah jalan. Mereka hanya diperbolehkan melihat dari kejauhan dan tidak sampai memasuki perkampungan. Banyak di antara wisatawan yang kecewa dan menuntut agar pemerintah segera memberikan perhatian kepada kampung adat tersebut. Sebelumnya, setiap malam selalu ada wisatawan,baik dari mancanegara ataupun lokal yang menginap di rumah warga.
Comments
Post a Comment