CIAMIS – Enam wisatawan asal Bandung terseret ombak di pantai barat Pangandaran,Kabupaten Ciamis,kemarin.Satu orang diny atakan hilang dan hingga semalam masih belum ditemukan.
Lima dari enam wisatawan itu berhasil menyelamatkan diri dan satu di antaranya diselamatkan pengunjung lain. Sementara, seorang wisatawan lain hanyut terbawa arus hingga ke tengah laut setelah terlepas dari kawanan wisatawan itu.Korban hanyut bernama Rival Renaldi, 17, siswa kelas 11 jurusan IPA SMA Negeri I Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Lima dari enam wisatawan itu berhasil menyelamatkan diri dan satu di antaranya diselamatkan pengunjung lain. Sementara, seorang wisatawan lain hanyut terbawa arus hingga ke tengah laut setelah terlepas dari kawanan wisatawan itu.Korban hanyut bernama Rival Renaldi, 17, siswa kelas 11 jurusan IPA SMA Negeri I Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Hingga kemarin sore, korban hilang tersebut masih dalam proses pencarian. Petugas Bala Wisata Tirta (Balawista) Pangandaran mengerahkan dua buah jet sky dan sejumlah personel untuk melakukan pencarian korban. Tetapi, upaya petugas belum membuahkan hasil.Saat hari mulai gelap, petugas belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan korban. Pencarian masih terus dilanjutkan hingga kemarin malam.
Sebelumnya, korban hanyut terseret arus saat berenang bersama lima wisatawan lain yakni Dede Kurniawan, Fajar, Misdar, Marlah, dan Saeful Ikhsan. Keenam korban terseret ombak itu semuanya masih siswa SMA Negeri I Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Mereka memanfaatkan waktu istirahat untuk berenang di Kawasan Boulevard Pangandaran, saat mengikuti kegiatan penelitian di Kawasan Cagar Alam Pananjung, Pangandaran. Kepala SMAN 1 Cisarua Engkun Kurnia beserta Wakil Kepala Sekolah Hasanudin masih tinggal di Hotel Sinar Rahayu 2 untuk memantau perkembangan pencarian korban.
Sementara, rombongan siswa yang berjumlah 259 siswa sudah dipulangkan lebih awal menggunakan enam unit bus menuju SMAN 1 Cisarua Bandung karena mereka mulai panik. ”Keberangkatan rombongan siswa ke Pangandaran untuk tujuan penelitian di Cagar Alam.Tetapi saat hendak pulang,para siswa meminta waktu untuk berenang di pantai Pangandaran.
Kami menuruti keinginan mereka,”ujar Engkun. Pihaknya sudah menginstruksikan agar siswa berenang tidak terpisah di tempat yang aman.Tetapi, keenam siswa yang menjadi korban terseret arus mengaku tidak akan berenang. ”Mereka lebih memilih bersepeda di tepi pantai saat seluruh siswa lain asyik berenang di tempat aman di depan Vila Kuda.
Tetapi beberapa saat kemudian, kami diberi tahu salah seorang korban yang selamat bahwa temannya terseret arus saat berenang di kawasan berbahaya di tepi pantai dekat Boulevard Pangandaran,” tutur Engkun.
Sementara itu, Kepala Balawista Pangandaran Dodo Taryana menjelaskan,keenam korban terseret arus diketahui melakukan aktivitas berenang di kawasan berbahaya tanpa menggunakan alat bantu di tepi pantai barat dekat Boulevard Pangandaran.
”Mereka sepertinya tidak begitu mengetahui lokasi, padahal ramburambu areal aman dan berbahaya untuk berenang sudah dipasang di sepanjang pantai,”kata Dodo. Dia memastikan, hasil pencarian seorang korban yang terseret arus masih belum ditemukan. Setelah menerima laporan kejadian itu, pihaknya langsung melakukan pencarian korban dengan mengerahkan dua buah jet skydan sejumlah petugas.
”Tetapi, hasil pencarian masih nihil sekalipun sudah dilakukan hingga beberapa kilometer dari tepi pantai. Pencarian masih terus dilakukan dengan melibatkan sejumlah pihak terkait termasuk dari kepariwisataan Pangandaran,”tuturnya.
Sebelumnya, korban hanyut terseret arus saat berenang bersama lima wisatawan lain yakni Dede Kurniawan, Fajar, Misdar, Marlah, dan Saeful Ikhsan. Keenam korban terseret ombak itu semuanya masih siswa SMA Negeri I Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Mereka memanfaatkan waktu istirahat untuk berenang di Kawasan Boulevard Pangandaran, saat mengikuti kegiatan penelitian di Kawasan Cagar Alam Pananjung, Pangandaran. Kepala SMAN 1 Cisarua Engkun Kurnia beserta Wakil Kepala Sekolah Hasanudin masih tinggal di Hotel Sinar Rahayu 2 untuk memantau perkembangan pencarian korban.
Sementara, rombongan siswa yang berjumlah 259 siswa sudah dipulangkan lebih awal menggunakan enam unit bus menuju SMAN 1 Cisarua Bandung karena mereka mulai panik. ”Keberangkatan rombongan siswa ke Pangandaran untuk tujuan penelitian di Cagar Alam.Tetapi saat hendak pulang,para siswa meminta waktu untuk berenang di pantai Pangandaran.
Kami menuruti keinginan mereka,”ujar Engkun. Pihaknya sudah menginstruksikan agar siswa berenang tidak terpisah di tempat yang aman.Tetapi, keenam siswa yang menjadi korban terseret arus mengaku tidak akan berenang. ”Mereka lebih memilih bersepeda di tepi pantai saat seluruh siswa lain asyik berenang di tempat aman di depan Vila Kuda.
Tetapi beberapa saat kemudian, kami diberi tahu salah seorang korban yang selamat bahwa temannya terseret arus saat berenang di kawasan berbahaya di tepi pantai dekat Boulevard Pangandaran,” tutur Engkun.
Sementara itu, Kepala Balawista Pangandaran Dodo Taryana menjelaskan,keenam korban terseret arus diketahui melakukan aktivitas berenang di kawasan berbahaya tanpa menggunakan alat bantu di tepi pantai barat dekat Boulevard Pangandaran.
”Mereka sepertinya tidak begitu mengetahui lokasi, padahal ramburambu areal aman dan berbahaya untuk berenang sudah dipasang di sepanjang pantai,”kata Dodo. Dia memastikan, hasil pencarian seorang korban yang terseret arus masih belum ditemukan. Setelah menerima laporan kejadian itu, pihaknya langsung melakukan pencarian korban dengan mengerahkan dua buah jet skydan sejumlah petugas.
”Tetapi, hasil pencarian masih nihil sekalipun sudah dilakukan hingga beberapa kilometer dari tepi pantai. Pencarian masih terus dilakukan dengan melibatkan sejumlah pihak terkait termasuk dari kepariwisataan Pangandaran,”tuturnya.
Comments
Post a Comment