Psikiatri dari Fakultas Kedokteran Univeritas Padjadjaran (Unpad) bekerja sama dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RHS) Bandung mendata warga yang diduga menderita penyakit gila (schizophernia) di Desa Kersamah, Kecamatan Kersamanah, kemarin.
Pendataan terkait jumlah penderita penyakit kejiwaaan yang mencapai puluhan orang di kawasan tersebut.Tim dokter ahli kejiwaan yang dipimpin dr Istiqomah Spkg, dan beranggotakan dr Lucky Saputra Spkg, dr Rachmat Purwanto Spkg, dr Arman, dan dr Marsudi setiba di sana langsung berkoordinasi dengan aparat kecamatan,sekaligus mendata 49 warga penderita penyakit kejiwaan. Ironisnya, sebagian besar dialami kaum perempuan.
”Tugas utama tim adalah tindakan rehabilitasi terhadap 49 orang dan melakukan penyuluhan yang berkaitan dengan kesehatan jiwa warga Desa Kersamah,Kecamatan Kersamanah yang dianggap menderita gila,” kata Istiqomah. Selain itu,tim rehabilitasi gabungan tersebut pada hari Rabu (29/4) mendatang, akan melakukan serangkaian kajian psikologi klinis mengenai kondisi sosial masyarakat Desa Kersamanah.
Camat Kersamanah Ahmad Sofari mengakui, warga yang menderita gangguan jiwa di wilayahnya mencapai 49 orang.Dari data yang diterima kecamatan, ke-49 orang tersebut sudah positif mengalami gangguan jiwa. Para penderita ini terdiri dari warga Kersamanah sebanyak 19 orang, warga Sukamaju 15 orang,warga Girijaya 6 orang, warga Nanjungjaya 6 orang, serta warga Sukamaju 3 orang.”Penyakit gila ini sudah berlangsung lama dan terjadi serentak di seluruh desa di Kecamatan Kersamanah, yaitu Desa Kersamanah, Sukamaju, Nanjungjaya, Girijaya, dan Desa Sukamerang,”ujarnya.
Menurut Ahmad, gejala gangguan jiwa yang menimpa puluhan warga disebabkan berbagai macam. Antara lain, papar dia, ditinggal cerai suami atau istri, ditinggal mati istri,anak,dan sanak keluarga, ditinggal pergi istri merantau ke kota besar, depresi dan persoalan sosial lainnya. Tidak hanya itu, Ahmad juga menduga ada faktor keturunan (gen) yang menyebabkan warganya mengalami gangguan jiwa massal.
”Seperti terjadi pada kakak beradik yaitu Mulyana, 35, Dedi , 28,dan Deden ,25,warga Desa Kersamanah yang semuanya mengalami gangguan jiwa tanpa sebab. Itu membuat kami merasa sangat heran,”ungkapnya prihatin.
”Tugas utama tim adalah tindakan rehabilitasi terhadap 49 orang dan melakukan penyuluhan yang berkaitan dengan kesehatan jiwa warga Desa Kersamah,Kecamatan Kersamanah yang dianggap menderita gila,” kata Istiqomah. Selain itu,tim rehabilitasi gabungan tersebut pada hari Rabu (29/4) mendatang, akan melakukan serangkaian kajian psikologi klinis mengenai kondisi sosial masyarakat Desa Kersamanah.
Camat Kersamanah Ahmad Sofari mengakui, warga yang menderita gangguan jiwa di wilayahnya mencapai 49 orang.Dari data yang diterima kecamatan, ke-49 orang tersebut sudah positif mengalami gangguan jiwa. Para penderita ini terdiri dari warga Kersamanah sebanyak 19 orang, warga Sukamaju 15 orang,warga Girijaya 6 orang, warga Nanjungjaya 6 orang, serta warga Sukamaju 3 orang.”Penyakit gila ini sudah berlangsung lama dan terjadi serentak di seluruh desa di Kecamatan Kersamanah, yaitu Desa Kersamanah, Sukamaju, Nanjungjaya, Girijaya, dan Desa Sukamerang,”ujarnya.
Menurut Ahmad, gejala gangguan jiwa yang menimpa puluhan warga disebabkan berbagai macam. Antara lain, papar dia, ditinggal cerai suami atau istri, ditinggal mati istri,anak,dan sanak keluarga, ditinggal pergi istri merantau ke kota besar, depresi dan persoalan sosial lainnya. Tidak hanya itu, Ahmad juga menduga ada faktor keturunan (gen) yang menyebabkan warganya mengalami gangguan jiwa massal.
”Seperti terjadi pada kakak beradik yaitu Mulyana, 35, Dedi , 28,dan Deden ,25,warga Desa Kersamanah yang semuanya mengalami gangguan jiwa tanpa sebab. Itu membuat kami merasa sangat heran,”ungkapnya prihatin.
Comments
Post a Comment